PILKADA KALTIM PUTARAN II (Ucapkan Selamat untuk AFI, Minta Massanya Jaga Kaltim Kondusif)

Pemilihan gubernur dan wakil gubernur Kaltim periode 2008-2013 boleh dibilang sudah berakhir. Pasangan Achmad Amins-Hadi Mulyadi (Ahad) mengakui keunggulan perolehan suara rivalnya, Awang Faroek Ishak-Farid Wadjdy (AFI).

Pengakuan tersebut disampaikan Ahad setelah melihat perkembangan perolehan suara sementara Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim putaran kedua ini, baik melalui penghitungan cepat (quick count) oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), penghitungan KPU Kaltim, dan real count yang dilaksanakan kubu Ahad.

Pada penghitungan tersebut memang terdapat perbedaan signifikan, yang dinilai Ahad sudah sulit untuk mengejar perolehan suara AFI.

“Walau penghitungan resmi di KPU masih berjalan, tapi setelah memperhatikan quick count dan real count, maka kami berkesimpulan bahwa saatnya kami mengucapkan selamat kepada Pak Awang Faroek dan Pak Farid Wadjdy,” kata Amins dalam jumpa pers di Hotel Grand Victoria Samarinda, kemarin (24/10) siang,

Dalam jumpa pers itu, Achmad Amins didampingi beberapa pentolan tim suksesnya, di antaranya Andi Harun, Masykur Sarmi’an, dan Amir Husin. Hadi Mulyadi, menurut Amins, tidak sempat hadir karena masih menghadiri kegiatan partainya (PKS) di Jakarta.

Wali kota Samarinda itu mengimbau semua pihak, terutama para pendukungnya agar senantiasa menjaga situasi kondusif di Kaltim. Menurutnya, AFI sudah cukup dewasa untuk menjalankan tugas.

“Dia (AFI, Red.) juga teman saya. Mari kita bangun Kaltim ini bersama,” tandasnya. Amins juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Kaltim yang telah memberikan pilihan kepada Ahad.

“Semoga dukungan ini mendapat balasan kebaikan,” tutur Amins, seraya mengimbau pendukungnya untuk menerima kekalahan itu.

Dengan usia yang semakin tua, Amins juga menyatakan, tak akan berpikir lagi untuk maju pada pilgub periode 2013-2018 mendatang. Ia akan memberikan kesempatan kepada figur-figur muda.

Andi Harun menambahkan, meski penghitungan resmi KPU belum final, tapi pilgub Kaltim ini dianggap telah selesai oleh tim Ahad. Sebab, dengan melihat hasil quick count, dan real count sebagai referensi, maka saatnya mengucapkan selamat kepada AFI.

“Kalaupun ada perubahan, pergeserannya sangat kecil karena metode yang digunakan hampir sama. Kami segenap tim Ahad mohon maaf jika selama proses pilgub ini ada hal-hal kurang berkenan,” ujar Andi Harun.

Selanjutnya, Andi Harun menyerahkan sepenuhnya kepada KPU Kaltim untuk menuntaskan penghitungan suara pilgub ini. Soal bergabungnya PDIP dan Partai Golkar yang tampaknya tak menambah suara secara signifikan bagi Ahad, Andi Harun enggan komentar.

“Kami sudah berusaha maksimal, yang terjadi adalah kehendak Allah,” jelas mantan wakil ketua DPRD Kaltim itu.

Seperti diberitakan, data quick count yang dirilis Lingkaran Survei Indonesia maupun Lembaga Survei Indonesia, Kamis sore (23/10) setelah pemungutan suara sama-sama menempatkan AFI sebagai pemenang.

LSI versi Lingkaran mengungkapkan, AFI mendulang suara 58,68 persen, sedangkan Ahad memeroleh 41,32 persen suara. Hitungan LSI versi Lembaga, AFI memperoleh suara 57,08 persen dan Ahad sebesar 42,92 persen.

Hasil penghitungan KPU Kaltim yang dipaparkan dalam website hingga pukul 00.00 malam tadi AFI menghimpun suara 56,92% (307.917 suara), sedangkan Ahad 43,08% (233.048 suara). KPU Kaltim baru akan menetapkan hasil perolehan suara pada 7 November nanti.

Melihat hasil quick count kedua LSI dan perhitungan manual timsesnya, juga ditunjang perhitungan kepolisian, Awang Faroek semakin mantap keyakinannya akan memenangkan pilgub putaran kedua.

Terpisah, mantan ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kaltim Jafar Haruna mengatakan, hampir bisa dipastikan AFI memenangi Pilgub Kaltim. Karena, persentase perbedaan suara yang cukup jauh.

“Berdasarkan pengalaman pilgub pertama, perubahan suara tak akan mengalami pergeseran yang signifikan. Posisi AFI sulit terkejar,” katanya, ketika bertemu Kaltim Post, di Bandara Internasional Sepinggan Balikpapan, kemarin.

Calon gubernur Kaltim yang tak lolos pada putaran pertama Heru Bambang, dan memberikan dukungannya pada AFI pada putaran kedua, optimistis AFI menang.

“Heru Bambang Center kan masih ada di semua kota. Kami terima laporan dari sana,” ucapnya,

Di tempat terpisah, Kapoltabes Samarinda Kombes Pol Nasib Simbolon juga menggelar jumpa pers bersama Dandim 0901/Samarinda Letkol Inf Arie Subekti, dan Humas Pemprov Kaltim diwakili Eko Susanto. Pada kesempatan itu, ketiganya mengimbau semua pihak turut memelihara suasana kondusif di Kaltim.

“Kita bersyukur sampai saat ini (kemarin, Red.) tahapan pelaksanaan pilgub berjalan lancar,” terang Kapoltabes Nasib Simbolon.

Kepada media massa (cetak dan elektronik) diharapkan ikut menciptakan suasana sejuk dengan menggunakan bahasa-bahasa yang bijak dalam menyampaikan informasi di media masing-masing.

“Peran media sangat penting. Kalau Kaltim sejuk, tentu kita semua akan dapat bekerja dengan tenang,” jelasnya.

BELUM FATAL

Panitia Pengawas Pemilihan Gubernur (Panwas Pilgub) Kaltim sejauh ini masih menginput data pelanggaran dari kabupaten dan kota. Hasilnya akan diumumkan dalam waktu dekat.

Anggota Panwas Pilgub Kaltim Jufri Musa mengatakan, pihaknya berupaya secepatnya merekap data pelanggaran itu. Panwas juga tak ingin lama-lama, karena pelanggaran yang ada perlu diselesaikan secepatnya.

Menurutnya, sejauh ini masalah-masalah yang muncul masih berupa pelanggaran biasa. Panwas belum mendapat laporan atau menemukan pelanggaran fatal, yakni pelanggaran yang sangat berisiko bagi pilgub.

“Ada pelanggaran, tapi pelanggaran biasa seperti bagi-bagi sembako yang melibatkan dua pasangan calon. Kami berupaya menyelesaikan itu secepatnya, karena memang waktu penanganannya terbatas,” kata Jufri.

Lantas, bagaimana hasil pengusutan dugaan pelanggaran pilgub berupa pemilihan dengan sistem conteng di TPS 10, Rapak Dalam, Samarinda Seberang? Menurut Jufri, kasus itu masih diselidiki. Panwas Kaltim belum dapat memastikan apakah itu tergolong pidana pemilu atau tidak, karena masih diselidiki.

Tim Panwas yang diturunkan menyelidiki temuan itu belum memberikan laporan. “Mereka kami beri waktu 4 hari untuk menyelidiki. Jadi, kita tunggu saja hasil penyelidikan mereka. Kalau terbukti pelanggaran pidana kita akan serahkan kepada polisi, kalau hanya pelanggaran administrasi akan diserahkan ke KPU ( Sumber Kaltimpost )

6 Balasan ke PILKADA KALTIM PUTARAN II (Ucapkan Selamat untuk AFI, Minta Massanya Jaga Kaltim Kondusif)

  1. ita mengatakan:

    Selamat ya untuk AFI, padahal dari putaran pertama pun AFI sudah menang dan dipaksakan juga harus putaran kedua. Menurut saya dari semula seharusnya jgn ada putaran kedua, buat apa hanya pemborosan, masih banyak rakyat Kaltim yang susah perlu dana besar buat menyambung hidup bukan untuk pilkada yang cuma sesaat.

  2. Mutamam mengatakan:

    selamat untuk AFI, namun kemenangan ini bukan akhir dari segalanya, justru tugas dan tanggung jawab yang lebih berat menunggu AFI untuk memajukan KALTIM.
    selamat untuk AFI, AHAD jangan sedih, anggap kekalahan ini sebagai pelajaran untuk masa yang akan datang.

  3. Kunarso mengatakan:

    SELAMAT TAHUN BARU 1430 HIJRIYAH
    Meninggalkan suasana Jahiliyah yang cenderung terpecah-belah,
    Menuju suasana yang lebih cerah dengan jalinan ukhuwah.

    Berikut tulisan dikuti dari Kaltim Post Senin, 30 Januari 2006

    Hilal Muharam dan Semangat Berhijrah
    Oleh: Kunarso

    Tanpa terasa waktu setahun telah berlalu. Awal Muharam pun kini tiba. Tanggal 1 Muharram adalah permulaan kalender Islam atau Tahun Hijriyah.

    HILAL atau bulan sabit yang muncul menandai datangnya awal bulan Muharam yaitu bulan pertama dalam Kalender Islam atau dikenal dengan Tahun Hijriyah belakangan ini selalu mendapat perhatian ummat muslim di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia dan khususnya di Kota Samarinda. Berbagai macam agenda acara disusun untuk menyambutnya, ada tablig akbar, pawai, perlombaan, bakti sosial dan pemasangan spanduk di berbagai tempat strategi.

    Apabila dicermati catatan sejarah kejadian pada masa lampau, maka dapatlah diketahui bahwa perhatian terhadap hilal sudah ditunjukkan oleh Rasulullah Muhammad SAW bahkan beliau memberikan contoh apabila melihat hilal maka beliau berdo’a.

    Adapun contoh do’a dari Rasulullah Muhammad SAW dalam menyambut munculnya hilal tertera di dalam hadist diriwayatkan oleh Tirmidzi yang artinya sebagai berikut: “Dari Abdullah bin Umar r.a. menyatakan : Rasulullah jika melihat hilal (bulan sabit) lalu membaca: “Allahu Akbar, allahumma Ahillahu “alaina bil amni wal imani wassalamati wal Islami wattaufiqi lima tuhibbu watardha rabbuna wa rabbukallah”.

    (Artinya : Allah Maha Besar, Yaa Allah berikanlah kepada kami hilal (bulan sabit) yang membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keIslaman serta berilah petunjuk kepada apa yang Engkau cintai dan sukai, Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah).

    Adalah sangat tepat apabila doa tersebut diucapkan oleh segenap penduduk negeri ini pada saat nenyongsong hilal pada awal tahun hijriyah dengan harapan semoga kondisi bangsa dan negara dapat kembali membaik untuk waktu selanjutnya nanti.Dalam kondisi negara dan masyarakat Indonesia yang belum pulih dari suasana keprihatinan sebagai akibat dari berbagai krisis dan berlanjut dengan berbagai bencana yang telah melanda negeri ini, munculnya hilal seolah akan membawa pesan tersendiri bagi umat muslim agar tetap optimis dan bersemangat melangkah maju menuju masa depan yang segera datang. Bagaimana tidak ?

    Dengan terbit hilal dapat membuat spirit tergugah untuk berharap bahwa bulan purnama akan datang, Insya Allah. Seperti yang pernah dikatakan oleh Buya Hamka : “Apabila bulan sabit terbit di ufuk barat, maka bolehlah berharap bahwa akan datang bulan purnama”.Boleh jadi para ulama dan umat muslim di masa lampau sengaja memilih bulan sabit sebagai lambang setelah melalui pemikiran dan pertimbangan yang matang. Lambang yang penuh arti dan makna itu telah sekian lama menjadi kebanggaan umat muslim dan dipasang di puncak menara dan kubah masjid. Lebih dari itu, berbagai organisasi Islam menggunakannya sebagai lambang yang memberi makna untuk membesar dan berkembang di masa selanjutnya. Tidak heran apabila ternyata kemudian ada juga umat muslim yang menggunakannya sebagai ornamen penghias rumahnya.

    Walaupun ada sementara orang yang tak peduli dengan arti penting lambang dan simbol, adalah tidak berlebihan jika dikatakan bahwa di dalam kehidupan sehari-hari seorang manusia hampir selalu dihadapkan dengan lambang dan simbol. Ketika di rumah membaca buku, maka seseorang menghadapi lambang atau simbol bunyi berupa huruf dan ketika berjalan di jalan raya maka akan banyak terbantu oleh adanya lambang dan simbol pemberi petunjuk sehingga lalulintas menjadi lancar. Ketika beribadah, ternyata bahwa sebagian acara ritual ibadah agama Islam merupakan lambang yang penuh arti dan makna.

    Ibadah haji contohnya, disana ada ritual melempar jumroh yang dilambangkan sebagai perlawanan terhadap syeitan yang menjadi musuh nyata umat manusia. Penyembelihan kurban dilambangkan sebagai ketaatan umat muslim memenuhi perintah Allah, SWT sebagaimana kesediaan Nabi Ibrahim mengorbankan putra yang disayanginya semata memenuhi perintah Yang Maha Kuasa. Bukan darah dan daging kurban yang akan sampai kepada Allah SWT melainkan taqwa.

    SIMBOL PUNCAK MASJID

    Penggunaan hilal sebagai simbol di puncak masjid sudah sejak lama dilakukan oleh ummat muslim di masa lalu, kemudian setelah beberapa dekade sempat berkembang penggunaan simbol yang lain, maka kini kecenderungan terhadap penggunaan kembali lambang hilal atau bulan sabit kian berkembang dan semakin meluas setelah dipelopori oleh beberapa masjid besar kebangganan ummat muslim masa kini antara lain Masjid Agung Surabaya Jawa Timur dan Masjid Islamic Centre Samarinda Kalimantan Timur.

    Tidak mustahil jika kemudian nanti akan semakin banyak lagi masjid baru yang memasang lambang hilal atau bulan sabit di atas kubah atau menara tanpa perlu menunggu adanya gerakan mengangkat bulan sabit kembali ke puncak masjid. Jika betul demikian, semangat dan optimisme ummat muslim untuk terus bergerak maju menuju masa depan yang lebih cerah dan gemilang bisa jadi akan dapat menjadi kenyataan bagaikan bulan sabit yang dari kecil kian membesar menjadi purnama yang menyinari Bumi ketika diselimuti kegelapan malam sehingga menjadi terang benderang, InsyaAllah.

    Pada saat mengawali tahun baru hijriyah, ada baiknya jika segenap ummat muslim belajar untuk dapat mengerti dan memahami tentang manfaat penting dari penggunaan tahun hijriyah.

    Perhitungan Kalender Tahun Hijriyah adalah berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi, sedangkan perhitungan Kalender Tahun Miladiyah berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari. Lamanya waktu dalam setahun menurut perhitungan Tahun Hijriyah adalah 354 hari, sedangkan menurut perhitungan Tahun Miladiyah adalah 365 hari.

    Sebenarnya jumlah hari dalam setahun tidak persis seperti angka tersebut, tetapi ada kelebihan beberapa jam, beberapa menit dan beberapa detik. Untuk koreksi terhadap adanya kelebihan waktu tersebut yang jumlahnya dalam empat tahun mencapai satu hari lebih, angka dalam perhitungan tahun Miladiyah setiap empat tahun ditambahkan satu hari yang diletakkan di bulan Februari. Bulan Februari yang biasanya adalah 28 hari pada tahun kabisat yang terjadi empat tahun sekali itu jumlahnya menjadi 29 hari seperti yang terjadi pada tahun 2000 Miladiyah.

    Tak perlu heran, bahwa karena adanya perbedaan sebelas hari dalam setahun antara perhitungan Tahunn Hijriyah dan Tahun Miladiyah, maka dapat terjadi dua ‘Idul Fitri pada tahun 2000 Miladiyah. Hal tersebut dapat terjadi karena menurut perhitungan Tahun Hijriyah telah mencapai setahun, tetapi menurut perhitungan tahun Miladiyah masih perlu melengkapi beberapa hari lagi sampai mencapai akhir Desember.

    Nama Tahun Islam dikenal dengan Tahun hijriyah karena perhitungan awwal dimulai dari tahun terjadinya peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, tahun kalender yang berlaku umum disebut dengan Tahun Miladiyah karena dianggap perhitungannya dimulai dari tahun kelahiran (milad) Nabi Isa A.S. Manfaat penting dari penggunaan tahun hijriyah adalah agar ummat Muslim terdorong untuk berhijrah meninggalkan kondisi yang jelek menuju kondisi yang baik. ***

    *) Penulis: Pemerhati Lambang dan Simbol, Tinggal di Loa Bakung Samarinda.
    http://azkun.blogspot.com

  4. Kunarso mengatakan:

    BERITA CACAT MENGECOH UMMAT
    Shalat Gerhana beberama masjid di Samarinda terhambat.

    BERBEDA dengan apa yang terjadi di Kecamatan Melak Kutai Barat, yang diberitakan bahwa Shalat Gerhana di tempat itu berlangsung dengan lancar (Kaltim Post 27 Januari 2009). Bahkan, shalat gerhana yang dilaksanakan di Masjid YAMP (Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila) atas kerjasama Nahdhatul Ulama Kubar melalui Masjid Sabilussalam Melak, Masjid Al-Hidayah Melak dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kubar itu diikuti oleh ratusan ummat yang ingin menegakkan sunnah rasulnya.
    Wakil Bupati Kubar H Didik Effendi yang ikut hadir mengikuti shalat gerhana dengan menyertakan seluruh keluarganya itu mengakui, ini adalah Shalat Gerhana yang kedua kalinya diikuti. Pertama Shalat Gerhana tahun 1983 dan kedua kalinya tahun 2009.

    Di Samarinda justru sebaliknya, di beberapa masjid Shalat Gerhana terhambat oleh adanya berita cacat yang beredar dan terbaca oleh masyarakat di muat oleh media terbesar di Kalimantan Timur Senin pagi(26/1-2009). Dalam berita pagi itu dimuat, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Geofisika Balikpapan Ronny Watimena mengatakan, untuk wilayah Indonesia, gerhana hanya bisa disaksikan di Lampung. Untuk wilayah Kaltim tidak bisa disaksikan. Ini juga menepis kabar bahwa gerhana cincin bisa dilihat dari Samarinda.
    Berita cacat yang tidak akurat itu ternyata sempat mengecoh ummat, termasuk Jamaah Masjid Jami’ Ar-Rasyiddin dan Masjid Istiqlal Kelurahan Loa Bakung Kec. Sungai Kunjang Samarinda yang sebagian besar jamaahnya adalah warga Perumahan KORPRI. Shalat Gerhana yang telah direncanakan jadi terhambat.

    Gerhana matahari cincin (GMC) yang terjadi Senin lalu tanggal 29 Muharram 1430 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 26 Januari 2009 Miladiyah mendapat perhatian khusus bagi Ummat Muslim tidak terkecuali Jamaah Masjid Jami’ Ar-Rasyiddin, Jamaah Masjid Istiqlal dan Mushalla Al-Azhar Loa Bakung. Jamaah berbondong-bondong menuju masjid dan mushalla sejak menjelang waktu dhuhur untuk melaksanakan shalat gerhana berjamaah sebagaimana pernah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Memang, sehari sebelumnya pengurus masjid dan mushalla telah mengumumkan akan dilaksanakannya shalat gerhana pada hari Senin tanggal 26 Januari 2009 setelah Shalat Dhuhur menyesuaikan dengan informasi dari berbagai media yang menyebutkan bahwa fenomena alam itu akan terjadi mulai pukul 12.56 WITA.
    Berita cacat itu telah membuat kesulitan bagi para pengurus masjid sehingga saling melakukan kontak untuk mencari info yang lebih akurat. Walaupun banyak sumber lain di media maya menyebutkan bahwa gerhana matahari akan terlihat dari berbagai tempat di Indonesia termasuk dari Samarinda Kalimantan Timur, rupanya ebagian pengurus masih lebih percaya dengan berita cacat yang dimuat koran terkenal di Samarinda itu.
    Setelah berunding, maka jalan tengah diambil, disepakati untuk mengisi waktu dengan ceramah singkat dengan topik yang diangkat adalah ”Menyikapi Fenomena alam Gerhana”. Pengurus masjid tetap mempersilahkan nanti apabila memang gerhana terjadi akan dilaksanakan shalat.

    H. Abdul Qoim SAg., MM. dalam ceramahnya di hadapan jamaah Masjid Jami’ Ar-Rasyidin berpesan bahwa dalam menyikapi fenomena alam gerhana agar segenap Ummat Islam meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Dikatakan selanjutnya bahwa matahari dan bulan adalah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Oleh karena itu jangan sampai manusia menyembah matahari atau menyembah bulan. Matahari dan bulan yang ada di alam itu beredar sesuai dengan ketentuan dan ketika posisi bulan berada tepat pada garis lurus antara bumi dan matahari, maka terjadilah gerhana matahari. Pada saat lain, ketika posisi bumi berada pada garis lurus diantara bulan dan matahari maka terjadilah gerhana bulan. Rasulullah Muhammad SAW telah mencontohkan pada saat terjadi gerhana matahari maka beliau melakukan shalat berjamaah, menganjurkan untuk bersedekah dan amal shaleh. Ketua Badan Pengelola Masjid Jami’ Ar-Rasyidin Ir. H. Ibnoe Nirwani, MM. juga hadir saat itu.

    Ketika ceramah selesai, maka para jamaahpun kembali ke rumah masing-masing dengan masih menyisakan tanda tanya, betulkah bahwa gerhana matahari yang terjadi tidak dapat di lihat dari Samarinda? Jawabanpun diperoleh ketika melihat tayangan TV, berbagai stasiun TV mencantumkan teks berjalan bahwa gerhana matahari cincin dapat dilihat dari berbagai tempat di Indonesia termasuk dari Samarinda Kalimantan Timur.
    Terbukti kemudian, ternyata pada sore hari gerhana matahari terlihat dari Samarinda. Telepon dan sms pun beredar memberitahukan tentang terlihatnya gerhana matahari dari berbagai tempat di Samarinda dan Bontang. Pengurus Masjid Istiqlal kembali menginformasikan melalui pengeras suara bahwa gerhana matahari telah terlihat dan mengajak jamaah untuk melaksanakan shalat sunat gerhana.
    Adalah suatu pelajaran berharga bagi Ummat Muslim agar meningkatkan ilmu pengetahuan dalam berbagai hal termasuk astronomi agar tidak lagi mudah terkecoh dan terombang-ambing oleh berita menyesatkan yang cacat dan tidak akurat. Disarankan agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ormas Islam dapat menaruh perhatian dalam hal ini.

    Adanya klarifikasi berita oleh Kepala BMG Stasiun Geofisika Balikpapan Ronny Wattimena (Kaltim Post 27/1-2009) memperjelas adanya cacat berita yang telah dimuat. M. Yunus, SH. Koordinator Seksi Ibadah dan PHBI Masjid Jami’ Ar-Rasyiddin Loa Bakung menyesalkan adanya berita yang menyesatkan ummat. Lebih dari itu Kunarso Sekretaris Umum Masjid Jami’ Nurul Huda Loa Bakung Samarinda menyarankan agar sumber dan media yang memuat berita cacat itu meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat. http://loabakungceria.blogspot.com.

  5. Kunarso mengatakan:

    KANDUNGAN CERITA HONOCOROKO
    (Penjaga dan Pembawa Pesan yang Menjadi Korban)
    Oleh : Kunarso *)

    KANDUNGAN cerita dalam kaitan nama Aksara Jawa yang sering disebut sebagai “HONOCOROKO”, memiliki makna yang bernilai tinggi, mengingatkan kita semua untuk selalu membangun dan memelihara komunikasi agar terhindar dari salah persepsi dalam memberi, menjaga dan membawa pesan sehingga dapat dicegah dan dihindari adanya pertengkaran dan permusuhan yang dapat merugikan berbagai pihak.
    Nama Honocoroko sendiri diambil dari baris pertama dalam deretan Aksara Jawa, yang lengkapnya adalah sebagai berikut :

    HO NO CO RO KO
    DO TO SO WO LO
    PO DHO JO YO NYO
    MO GO BO TO NGO

    Dua puluh Aksara Jawa yang tersusun dalam empat baris itu dalam sejarahnya memiliki muatan cerita :

    Ono Caroko = ada utusan (abdi setia)
    Doto Sawolo = saling berseteru
    Podho Joyonyo = sama-sama sakti
    Mogo Bothongo=Keduanya jadi bangkai

    Dalam cerita, adalah seorang Satria namanya Ajisaka yang tinggal di sebuah pulau terpencil bersama dua orang abdi setianya, yaitu Dora dan Sembodo. Pada suatu hari Ajisaka bertekad untuk memperbaiki hidupnya dengan hijrah pergi ke ibukota kerajaan. Dora diajak ikut, sedangkan Sembodo tetap ditinggal di pulau dengan dititipi sebuah keris. Ajisaka berpesan agar keris tersebut dijaga dan disimpan, jangan sampai diberikan kepada orang lain. Sebagai abdi yang setia, maka pesan itupun diterima dan disanggupinya dengan tekad akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

    Kemudian setelah sekian lama, berbagai liku-liku perjalanan hidup dilaluinya, Ajisaka sukses menjadi Raja. Ketika itu, Ajisaka memerasa perlu untuk mengambil kerisnya, maka diutuslah Dora untuk menemui Sembodo guna meminta kembali keris yang dititipkan.Apa yang terjadi kemudian, sungguh diluar dugaan, kedua abdi yang setia, thaat dan sangat hormat itu merasa berada pada posisi yang berseberangan. Masing-masing abdi tidak ingin melanggar dan mengabaikan pesan Ajisaka. Sulitnya, kondisi pada saat itu tidak memungkinkan untuk berkomunikasi kembali sehingga masing-masing tetap berpegang teguh pada pesan awal yang diterimanya.Ketika Dora datang menyampaikan pesan Ajisaka yang mengutusnya untuk mengambil keris, maka Sembodo tidak mau menyerahkan keris tersebut. Sikap ini adalah sesuai dengan pesan yang diterima sebelumnya. Kedua Abdi setia itupun saling bersikukuh melaksanakan pesan Ajisaka, yang satu tidak mau memberikan keris yang dititipkan Ajisaka kepadanya, sementara itu yang satu lagi bertekat tidak akan kembali kepada Ajisaka yang kini menjadi Raja sebelum keris dibawa serta.
    Pertengkaranpun terjadi tak terhindarkan lagi. Kedua abdi saling memperebutkan keris dengan mengeluarkan tenaga, kemampuan dan kesaktian yang dimilikinya untuk merebut dan membela diri. Kekuatan keduanya berimbang, tidak ada yang mau mengalah dan akhirnya keduanyapun jadi korban, tewas menjadi bangkai tertusuk keris.Adapun pelajaran berharga dari cerita yang penuh makna itu adalah betapa penting dan perlunya membangun serta memelihara komunikasi antar berbagai pihak sejak dini secara rutin maupun berkala, terus-menerus dan tidak terhenti.Lebih-lebih pada era modern seperti sekarang ini, ketika alat komonikasi sudah semakin canggih dan hampir tak terhalangi, sungguh amat sayang jika masih ada pihak yang belum paham, tidak mengerti dan tidak mau belajar teknologi informasi.

    Penegakan disiplin kehadiran pegawai yang belakangan ini menggunakan alat deteksi sidik jari sebagai perekam data kehadiran pegawai, tidak mustahil pada saatnya nanti dapat menimbulkan perbedaan persepsi. Apalagi jika petugas yang menangani kurang memahami makna hakiki dari penggunaan alat pendeteksi yang masih perlu dikonformasi dengan fakta sebenarnya yang terjadi. Bisa jadi, ada pegawai yang pada suatu hari sudah hadir dan bekerja tetapi karena sesuatu hal baik karena lupa atau karena ada hal lain tidak atau terlambat menempelkan jari. Jika hanya mengandalkan data mati dan tidak disertai komunikasi, maka keputusan salah akan dapat terjadi, yaitu memotong uang insentif pegawai yang dianggapnya mangkir atau terlambat tidak permisi.

    Begitu pula, ketika Gubernur Kaltim menaruh perhatian besar dalam penegakkan hukum berkaitan dengan pemberantasan korupsi, bersamaan dengan itu juga menghendaki adanya suasana kondusif bagi pegawai dalam melaksanakan tugas sehari-hari, maka dibentuklah KORMONEV (Koordinasi, Monitoring dan Evaluasi). Wakil Gubernur sebagai ketua Kormonev dengan beberapa anggotanya bertugas untuk mengawasi, mencermati, meneliti, mendalami semua laporan yang masuk terkait korupsi. Laporan akan dievaluasi, jika memang ada bukti kuat maka akan ditindak lanjuti. Apabila terbatas pada administrasi akan ditindak lanjuti Bawasprov, sedangkan yang memang benar ada tindak pidana maka ditindak lanjuti oleh pihak Kepolisian, Kejaksaan atau KPK. Gubernur berpesan agar pegawai yang dipanggil KPK, Kejaksaan atau Polisi mendapatkan ijin dari Gubernur. Yang diperlukan kemudian adalah kejelasan aturan agar tidak terjadi salah persepsi bagi aparat pelaksananya. Intinya, komunikasi perlu diperjelas, terus berlanjut, tidak terhenti.InsyaAllah dengan komunikasi yang terus berlanjut dipelihara dan diperbaharui, dapat dicegah jatuhnya korban yang merugikan berbagai pihak, baik pemberi, penjaga, penerima dan pembawa pesan, termasuk aparat penegak hukum yang mendapat pesan dan bertugas mengamankan pelaksanaan aturan undang-undang dan peraturan yang berlaku.

    *) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur.
    http://loabakungceria.blogspot.com.

  6. Kunarso mengatakan:

    KANDUNGAN CERITA HONOCOROKO
    KANDUNGAN CERITA HONOCOROKO
    (Penjaga dan Pembawa Pesan yang Menjadi Korban)
    Oleh : Kunarso *)

    KANDUNGAN cerita dalam kaitan nama Aksara Jawa yang sering disebut sebagai “HONOCOROKO”, memiliki makna yang bernilai tinggi, mengingatkan kita semua untuk selalu membangun dan memelihara komunikasi agar terhindar dari salah persepsi dalam memberi, menjaga dan membawa pesan sehingga dapat dicegah dan dihindari adanya pertengkaran dan permusuhan yang dapat merugikan berbagai pihak.
    Nama Honocoroko sendiri diambil dari baris pertama dalam deretan Aksara Jawa, yang lengkapnya adalah sebagai berikut :

    HO NO CO RO KO
    DO TO SO WO LO
    PO DHO JO YO NYO
    MO GO BO TO NGO

    Dua puluh Aksara Jawa yang tersusun dalam empat baris itu dalam sejarahnya memiliki muatan cerita :

    Ono Caroko = ada utusan (abdi setia)
    Doto Sawolo = saling berseteru
    Podho Joyonyo = sama-sama sakti
    Mogo Bothongo=Keduanya jadi bangkai

    Dalam cerita, adalah seorang Satria namanya Ajisaka yang tinggal di sebuah pulau terpencil bersama dua orang abdi setianya, yaitu Dora dan Sembodo. Pada suatu hari Ajisaka bertekad untuk memperbaiki hidupnya dengan hijrah pergi ke ibukota kerajaan. Dora diajak ikut, sedangkan Sembodo tetap ditinggal di pulau dengan dititipi sebuah keris. Ajisaka berpesan agar keris tersebut dijaga dan disimpan, jangan sampai diberikan kepada orang lain. Sebagai abdi yang setia, maka pesan itupun diterima dan disanggupinya dengan tekad akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

    Kemudian setelah sekian lama, berbagai liku-liku perjalanan hidup dilaluinya, Ajisaka sukses menjadi Raja. Ketika itu, Ajisaka memerasa perlu untuk mengambil kerisnya, maka diutuslah Dora untuk menemui Sembodo guna meminta kembali keris yang dititipkan.Apa yang terjadi kemudian, sungguh diluar dugaan, kedua abdi yang setia, thaat dan sangat hormat itu merasa berada pada posisi yang berseberangan. Masing-masing abdi tidak ingin melanggar dan mengabaikan pesan Ajisaka. Sulitnya, kondisi pada saat itu tidak memungkinkan untuk berkomunikasi kembali sehingga masing-masing tetap berpegang teguh pada pesan awal yang diterimanya.Ketika Dora datang menyampaikan pesan Ajisaka yang mengutusnya untuk mengambil keris, maka Sembodo tidak mau menyerahkan keris tersebut. Sikap ini adalah sesuai dengan pesan yang diterima sebelumnya. Kedua Abdi setia itupun saling bersikukuh melaksanakan pesan Ajisaka, yang satu tidak mau memberikan keris yang dititipkan Ajisaka kepadanya, sementara itu yang satu lagi bertekat tidak akan kembali kepada Ajisaka yang kini menjadi Raja sebelum keris dibawa serta.
    Pertengkaranpun terjadi tak terhindarkan lagi. Kedua abdi saling memperebutkan keris dengan mengeluarkan tenaga, kemampuan dan kesaktian yang dimilikinya untuk merebut dan membela diri. Kekuatan keduanya berimbang, tidak ada yang mau mengalah dan akhirnya keduanyapun jadi korban, tewas menjadi bangkai tertusuk keris.Adapun pelajaran berharga dari cerita yang penuh makna itu adalah betapa penting dan perlunya membangun serta memelihara komunikasi antar berbagai pihak sejak dini secara rutin maupun berkala, terus-menerus dan tidak terhenti.Lebih-lebih pada era modern seperti sekarang ini, ketika alat komonikasi sudah semakin canggih dan hampir tak terhalangi, sungguh amat sayang jika masih ada pihak yang belum paham, tidak mengerti dan tidak mau belajar teknologi informasi.

    Penegakan disiplin kehadiran pegawai yang belakangan ini menggunakan alat deteksi sidik jari sebagai perekam data kehadiran pegawai, tidak mustahil pada saatnya nanti dapat menimbulkan perbedaan persepsi. Apalagi jika petugas yang menangani kurang memahami makna hakiki dari penggunaan alat pendeteksi yang masih perlu dikonformasi dengan fakta sebenarnya yang terjadi. Bisa jadi, ada pegawai yang pada suatu hari sudah hadir dan bekerja tetapi karena sesuatu hal baik karena lupa atau karena ada hal lain tidak atau terlambat menempelkan jari. Jika hanya mengandalkan data mati dan tidak disertai komunikasi, maka keputusan salah akan dapat terjadi, yaitu memotong uang insentif pegawai yang dianggapnya mangkir atau terlambat tidak permisi.

    Begitu pula, ketika Gubernur Kaltim menaruh perhatian besar dalam penegakkan hukum berkaitan dengan pemberantasan korupsi, bersamaan dengan itu juga menghendaki adanya suasana kondusif bagi pegawai dalam melaksanakan tugas sehari-hari, maka dibentuklah KORMONEV (Koordinasi, Monitoring dan Evaluasi). Wakil Gubernur sebagai ketua Kormonev dengan beberapa anggotanya bertugas untuk mengawasi, mencermati, meneliti, mendalami semua laporan yang masuk terkait korupsi. Laporan akan dievaluasi, jika memang ada bukti kuat maka akan ditindak lanjuti. Apabila terbatas pada administrasi akan ditindak lanjuti Bawasprov, sedangkan yang memang benar ada tindak pidana maka ditindak lanjuti oleh pihak Kepolisian, Kejaksaan atau KPK. Gubernur berpesan agar pegawai yang dipanggil KPK, Kejaksaan atau Polisi mendapatkan ijin dari Gubernur. Yang diperlukan kemudian adalah kejelasan aturan agar tidak terjadi salah persepsi bagi aparat pelaksananya. Intinya, komunikasi perlu diperjelas, terus berlanjut, tidak terhenti.InsyaAllah dengan komunikasi yang terus berlanjut dipelihara dan diperbaharui, dapat dicegah jatuhnya korban yang merugikan berbagai pihak, baik pemberi, penjaga, penerima dan pembawa pesan, termasuk aparat penegak hukum yang mendapat pesan dan bertugas mengamankan pelaksanaan aturan undang-undang dan peraturan yang berlaku.

    *) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur.
    http://loabakungceria.blogspot.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: